Apa hidup lo seperti ini ?
Bagaimanakah hidup dapat didefinisikan sekarang ini? Ketika hidup berada di kisaran dua puluh tahunan, akan ada banyak sekali definisi tentang hidup. Definisi yang beragam, absurd tak beraturan.
Hidup adalah tidak pernah bangun pagi, mendapati kamar bau asap rokok, pakaian bau asap rokok, mulut yang terasa pahit juga karena rokok. Berbatang-batang puntung rokok, tumpukan abu rokok di asbak, gitar, dan serakan kulit kacang. Foto mantan pacar yang sering dikirimi sms berisi puisi atau lirik lagu My Chemical Romance (yang walau sering diejek ternyata didengarkan juga), foto-foto kecengan yang di grab dari facebook, tumpukan DVD cult movie, juga film-film Miyabi dan Asia Carerra yang sangat influentials.
Hidup adalah kopi, teh manis, dan terkadang bir. Tumpukan majalah musik, majalah film, hingga majalah porno hasil pinjaman dan biasanya sengaja tidak dikembalikan. Kumpulan CD, MP3 dan kaset bajakan yang diputar keras-keras di Winamp, i-Pod, CD Player, hingga Tape Deck tua yang sudah hidup segan mati tak mau.
Kemudian hidup adalah baju kotor, sabun mandi, sikat gigi beserta odolnya, air yang sedingin es, handuk yang sudah satu bulan tidak dicuci. Merasa bersih hanya dengan satu gayung air saja. Hidup juga adalah sepiring nasi goreng beserta telor ceplok, terkadang satu mangkuk bubur ayam panas, satu gelas kopi atau teh manis, dan satu batang, lagi-lagi, rokok.
Hidup berlanjut dengan satu helai kaus band lusuh, celana jeans belel, sepatu Converse All Star yang sejak beli tidak pernah dicuci, dan diakhiri dengan rutinitas pencarian kunci motor yang melelahkan. Semoga hidup itu bukanlah tumpukan diktat kuliah yang dibawa dan dipandangi setiap hari seperti kumpulan rumus matematika yang isinya sulit dimengerti. Juga bukan omelan orang tua dan rengekan adik di ruang makan, juga berbasa-basi pada semua orang yang kita kenal, seakan itu adalah kewajiban.
Hidup bahkan semakin rumit saat mencium bau asap knalpot, jalan raya yang macet karena semua orang tergesa-gesa menuju tempat kerja untuk melakukan pekerjaan yang tidak mereka suka. Berisiknya peluit polisi lalu-lintas, berisiknya knalpot motor, tengadahan tangan anak kecil yang bernyanyi tak merdu di perempatan, menginjak dalam-dalam pedal rem karena lampu stopan mendadak berwarna merah.
Kampus adalah tempat definisi hidup berubah untuk kesekian kalinya. Hidup adalah mendengarkan ocehan dosen di dalam kelas, wajah-wajah cantik bermake-up, tubuh-tubuh yang terlalu wangi, merk pakaian terkenal, mobil-mobil mewah yang menyusur tanah, semua kekonyolan yang mengundang tawa terbahak-bahak, menertawakan hidup yang penuh dengan kepalsuan.
Terkadang hidup memang menyenangkan. Seperti setelan pakaian terbaik, satu ikat bunga, seorang kekasih, kewajiban tidak tertulis untuk melakukan basa-basi yang membosankan, kecupan di kening saat akan pulang, hanya di kening, karena dia adalah potential future bride, atau mungkin karena Ayahnya yang mantan preman terus mengawasi sehingga tidak berani untuk berbuat macam-macam. Hidup di akhir pekan bisa jadi adalah antrian. Antrian untuk menonton live gigs band kesayangan, antrian untuk menonton bioskop, antrian untuk membeli junkfood, bahkan antrian untuk menyaksikan bagaimana kejeniusan sangat tipis bedanya dengan kesintingan dalam suatu seni instalasi. Atau mungkin sekedar membunuh waktu dengan ragam kopi instan atau bir dingin kesukaan sambil meratapi nasib yang terkadang tidak adil.
Untuk sebagian orang hidup tidak pernah berhenti disana. Hidup akan terus bergulir dari tengah malam hingga fajar menjemput pagi. Ribuan kaki di lantai disko, ratusan mulut yang tertawa, berteriak, tersenyum, terkadang menangis. Berteman dengan alkohol, lintingan ganja, butiran ekstasi, putaran-putaran yang membuat limbung, dan dunia yang terus bergerak saat kita mematung.
Hidup adalah tarian erotis, kecupan kecil, bisikan, pelukan, hasrat yang dilanjutkan dengan lengkuhan nikmat diatas tempat tidur, disudut gelap dalam klub, di dalam mobil, di kamar kecil, di taman kota, di mana saja asal tetap berpagut, melenguh, menikmati surga dunia yang penuh dengan kenikmatan sesaat. Tapi kadang-kadang hidup di akhir pekan berakhir dengan sebuah tamparan di muka. Hidup terus berjalan dan terus memperkaya definisi-definisi tentangnya. Hidup itu berbeda-beda, seperti mimpi yang beragam namun sama mayanya. Hidup memberikan beragam warna. Kesenangan, kesedihan, keberuntungan, kemalangan, menemukan, ditinggalkan, hidup memberikan sensasi berupa pengalaman. Tapi bagaimanapun, pada akhirnya hidup tetap akan berakhir dengan mata tertutup. Sebelum saat itu tiba, seperti apa hidup yang akan kamu jalani?
0 komentar:


